LEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Penantian panjang masyarakat Desa Pelabuhan Talang Liak, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, akhirnya berbuah hasil. Jembatan Perintis Garuda yang menjadi akses penting bagi warga kini telah rampung 100 persen dan mulai dimanfaatkan.
Rampungnya jembatan tersebut menjadi kabar baik bagi sekitar 350 kepala keluarga atau kurang lebih 1.000 jiwa yang selama ini mengandalkan akses penyeberangan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Jembatan gantung dengan panjang sekitar 70 meter dan lebar 1,5 meter itu kini menjadi jalur penghubung utama masyarakat. Keberadaannya tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga membuka kembali akses menuju lahan pertanian, sekolah, fasilitas kesehatan hingga pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebelum jembatan baru tersebut dibangun, warga harus berhadapan dengan kondisi jembatan lama yang mengalami kerusakan. Derasnya arus sungai menjadi salah satu persoalan yang membuat akses masyarakat kerap terganggu, terutama ketika hujan deras menyebabkan debit air meningkat.
Situasi itu bukan sekadar menghambat perjalanan. Bagi masyarakat yang sebagian menggantungkan hidup dari sektor pertanian, akses yang terganggu berarti kesulitan untuk menuju lahan maupun membawa hasil pertanian keluar dari kawasan permukiman.
Begitu pula bagi anak-anak yang harus pergi ke sekolah serta warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Kondisi penyeberangan yang tidak memadai membuat aktivitas mereka menjadi lebih sulit dan berisiko.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Dengan rampungnya Jembatan Perintis Garuda, warga memiliki akses penyeberangan yang lebih layak sehingga mobilitas sehari-hari dapat berlangsung dengan lebih aman dan lancar.
Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, mengatakan, pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program unggulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang dilaksanakan melalui Kodim 0409/Rejang Lebong. Kehadiran infrastruktur tersebut menjadi salah satu bentuk upaya menghadirkan akses yang dibutuhkan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan konektivitas.
“Proses pembangunan tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat. Semangat gotong royong antara TNI dan warga menjadi bagian penting dalam pengerjaan hingga jembatan tersebut akhirnya dapat diselesaikan,” ujar Dandim.
Bagi warga, jembatan ini memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar konstruksi fisik. Jembatan menjadi penghubung antara permukiman dengan sumber penghidupan masyarakat sekaligus memperlancar akses terhadap pendidikan dan pelayanan dasar.
Karena itu kata Dandim, pembangunan Jembatan Perintis Garuda diharapkan memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Bahkan jelas dia, pembangunan infrastruktur jembatan harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama dalam memperlancar mobilitas dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
“Dengan selesainya pembangunan jembatan ini, kita berharap akses masyarakat semakin mudah dan aman. Jembatan ini bukan hanya menjadi sarana penyeberangan, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan sosial masyarakat,” kata Dandim.
Dia juga menegaskan, semangat gotong royong yang terbangun selama proses pembangunan menjadi bagian dari kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat membutuhkan keterlibatan dan kepedulian bersama.
Dandim juga berharap, masyarakat dapat menjaga dan merawat jembatan tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam waktu panjang.
“Yang paling penting adalah bagaimana fasilitas yang sudah dibangun ini dapat dirawat dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat. Harapannya, jembatan ini bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Rampungnya Jembatan Perintis Garuda akhirnya menjawab persoalan akses yang selama ini menjadi salah satu kendala masyarakat Desa Pelabuhan Talang Liak. Bagi sekitar 1.000 warga yang menggunakannya, jembatan sepanjang 70 meter itu kini bukan hanya menjadi jalur penyeberangan, tetapi juga menjadi penghubung bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kehidupan sosial mereka.
Setelah lama menghadapi persoalan akses akibat kondisi jembatan lama dan meningkatnya debit sungai saat hujan, masyarakat kini memiliki jalur yang lebih layak untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Jembatan Perintis Garuda pun diharapkan menjadi bagian penting dalam membuka konektivitas sekaligus mendorong aktivitas masyarakat di wilayah tersebut. (JP)

























