REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Menjalani masa pembinaan di balik tembok lapas tidak selalu identik dengan rutinitas di dalam blok hunian. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup, warga binaan diberi ruang untuk belajar, bekerja, sekaligus mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu program tersebut diwujudkan melalui kegiatan peternakan ayam dan bebek yang dikelola di lingkungan Lapas Curup.
Dalam kegiatan ini, warga binaan terlibat langsung dalam berbagai tahapan pemeliharaan ternak. Mulai dari memberikan pakan, menjaga kebersihan kandang, memantau kondisi hewan, hingga melakukan perawatan secara rutin.
Aktivitas tersebut bukan sekadar untuk mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Lebih dari itu, peternakan menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membangun keterampilan praktis dan rasa tanggung jawab warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidharto, didampingi Kepala KPLP Dudi Anggriyono mengatakan, pembinaan kemandirian terus dikembangkan melalui kegiatan yang memiliki manfaat nyata bagi warga binaan.
Menurut dia, keterampilan di bidang peternakan diharapkan dapat menjadi salah satu bekal yang bisa dikembangkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya dan kembali ke lingkungan keluarga serta masyarakat.
“Melalui kegiatan peternakan ayam dan bebek, kami ingin memberikan pengalaman dan keterampilan praktis kepada warga binaan. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan dapat dikembangkan dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Untung.
Dijelaskannya, keterlibatan warga binaan dalam pengelolaan peternakan juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Setiap pekerjaan harus dilakukan secara rutin karena keberlangsungan ternak sangat bergantung pada perawatan yang konsisten.
“Dari pemberian pakan hingga menjaga kebersihan kandang, warga binaan belajar memahami bahwa pekerjaan sederhana sekalipun membutuhkan ketekunan dan tanggung jawab,” sampai Untung.
Dia juga menegaskan, program tersebut sekaligus menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih produktif. Warga binaan tidak hanya menjalani aktivitas selama berada di dalam lapas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita akan terus mendorong agar program pembinaan kemandirian dapat berjalan secara berkelanjutan. Harapannya, proses pembinaan tidak berhenti pada masa menjalani pidana, tetapi turut mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas,” pungkasnya.
Dengan keterampilan yang diperoleh, warga binaan diharapkan memiliki pengalaman untuk mengembangkan kegiatan serupa secara mandiri, termasuk membuka peluang usaha sederhana di bidang peternakan ketika kembali ke masyarakat.
Sedangkan bagi Lapas Curup, pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dari proses mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali menjalani kehidupan secara lebih produktif dan bertanggung jawab setelah menyelesaikan masa pidananya. (NAC)




























