Oleh: Ibnu Sakirin, M.Pd.,CPM., CPHM., CPArb (TIM UPTD PPA KABUPATEN REJANG LEBONG)
Pendahuluan
Era digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih menjadikan dunia seolah tanpa batas. Internet, media sosial, dan berbagai platform digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya bagi orang dewasa tetapi juga anak-anak. Anak-anak generasi milenial dan generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat terhubung dengan dunia digital. Mereka belajar, bermain, dan berinteraksi melalui layar gawai. Namun, di balik manfaat besar teknologi, terdapat pula tantangan dan ancaman yang tidak bisa diabaikan: mulai dari kecanduan gadget, paparan konten pornografi dan kekerasan, perundungan siber (cyberbullying), hingga eksploitasi seksual anak secara daring (online child exploitation).
Dalam situasi seperti ini, peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama menjadi semakin krusial. Pola asuh tradisional yang menekankan pada disiplin dan kontrol perlu disesuaikan dengan realitas baru di mana anak hidup dalam dunia yang terkoneksi secara digital. Pengasuhan di era digital bukan hanya soal membatasi penggunaan gawai, tetapi juga menanamkan nilai, membangun kesadaran, dan memberikan literasi digital agar anak mampu berinteraksi dengan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain itu, pengasuhan anak di era digital tidak bisa dilepaskan dari aspek hukum. Negara melalui sistem hukum positif memiliki kewajiban untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi, termasuk yang terjadi di ruang maya. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali bagaimana pola asuh orang tua di era digital dapat dikaitkan dengan prinsip-prinsip hukum positif yang berlaku di Indonesia, terutama dalam konteks perlindungan anak.























