REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Peristiwa tragis kembali terjadi di aliran Sungai Musi, tepatnya di Desa Lubuk Ubar, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong. Seorang pelajar berusia 8 tahun, Bagas Muhammad Panji Pratama ditemukan tak bernyawa usai terseret arus sungai saat mandi bersama temannya, Senin 20 April 2026.
Kapolres Rejang Lebong AKBP Florentus Situngkir, S.I.K., M.H melalui Kasi Humas AKP Hasan Basri menyampaikan, korban ditemukan sekitar pukul 15.30 WIB dalam kondisi sudah tidak bernyawa, setelah sebelumnya dilaporkan hanyut oleh rekannya.
“Korban ditemukan sekitar 500 meter dari titik awal dilaporkan tenggelam. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Hasan.
Berdasarkan keterangan saksi, kejadian bermula saat korban bersama beberapa temannya mandi di Sungai Musi di sekitar area persawahan. Tanpa disadari, arus sungai yang deras menyeret tubuh korban hingga tenggelam.
Salah seorang teman korban, Yudis, yang menyaksikan kejadian tersebut langsung berteriak meminta pertolongan. Teriakan itu didengar oleh Samsul (50), warga setempat, yang kemudian segera menghubungi warga lainnya untuk melakukan pencarian.
Upaya pencarian dilakukan secara manual oleh warga dengan menyisir sepanjang aliran sungai. Sekitar 30 menit kemudian, korban akhirnya ditemukan oleh Sutami (51), yang turut melakukan pencarian.
“Korban ditemukan saat penyisiran berlangsung. Tubuh korban secara tidak sengaja menyentuh kaki saksi yang berada di dalam sungai,” jelas Hasan.
Setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah duka di Desa Lubuk Ubar. Pada tubuh korban terdapat luka robek, memar, serta benjolan di bagian dahi kanan atas. Selain itu, kondisi tubuh korban sudah membiru, diduga akibat terlalu lama berada di dalam air.
“Dari hasil pengecekan di lokasi, keterangan saksi, serta kondisi korban, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang mengarah pada tindak pidana. Petugas mencatat bahwa kondisi arus sungai saat kejadian cukup deras dengan debit air tinggi, yang diduga kuat menjadi faktor utama korban terseret,” terangnya.
Sementara itu lanjut Hasan, pihak keluarga korban menolak dilakukan visum maupun autopsi terhadap jenazah. Namun meski begitu, pihak kepolisian tetap melakukan langkah-langkah penanganan seperti olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pengumpulan keterangan dari saksi.
“Pengawasan orang tua sangat penting, terutama saat anak-anak beraktivitas di lokasi berisiko seperti sungai. Kami harap kejadian ini tidak terulang kembali,” tandasnya.
Kejadian ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat akan bahaya aktivitas di sungai, terutama saat kondisi air sedang tinggi. Bahkan pihak kepolisian juga mengimbau, agar para orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya. (JP)
























