Sementara hasil riset Ardiansyah dkk. (2013) menemukan tutupan karang keras di kedalaman 3 meter hanya 6%–34,8%, dan di 7 meter sebesar 9,3%–49,5%.
Angka ini mengindikasikan bahwa tanpa upaya konservasi yang konsisten, potensi besar Pulau Pramuka bisa terus menurun.
Padahal, lokasinya yang begitu dekat dengan ibu kota menjadikan pulau ini sangat strategis untuk dikembangkan sebagai pusat ekowisata edukatif dan konservasi laut dengan melibatkan masyarakat lokal.
Menghidupkan Kembali Pesisir dan Laut Pulau Pramuka
Melihat kondisi tersebut, LindungiHutan menetapkan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu sebagai salah satu lokasi utama untuk penanaman mangrove dan restorasi terumbu karang.
Program ini tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menghadirkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, peneliti, pelajar, dan komunitas lingkungan.























