REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Kabar duka datang dari Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. TKI bernama Rizki Ade Putra (26), yang merupakan warga Kelurahan Air Duku Kecamatan Selupu Rejang dilaporkan meninggal dunia di Osaka, Jepang, pada Minggu 11 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pengurus Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Semanggih Kabupaten Rejang Lebong, korban diduga meninggal dunia setelah terjatuh dari balkon apartemen lantai sembilan tempatnya tinggal selama berada di Jepang.
Kasi Humas Polres Rejang Lebong, AKP Hasan Basri, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia menyampaikan, informasi mengenai peristiwa yang menimpa warga Rejang Lebong telah diterima pihaknya. Namun, penyebab pasti kematian korban masih perlu dipastikan berdasarkan keterangan resmi dari pihak berwenang di Jepang.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, seorang warga Kabupaten Rejang Lebong bernama Rizki Ade Putra dilaporkan meninggal dunia di Jepang. Dari keterangan awal yang diperoleh, korban diduga terjatuh dari balkon apartemen lantai sembilan. Namun, untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, masih diperlukan keterangan resmi dari pihak berwenang di Jepang,” ujar Hasan.
Dia menjelaskan, pihak LPK saat ini diketahui tengah berupaya untuk memulangkan jenazah korban sesuai dengan permintaan pihak keluarga. Sedangkan untuk rilis resmi dari kepolisian Jepang baru akan dilakukan besok.
“Dari informasi yang kami terima, saat ini pihak LPK sudah memberikan keterangan oleh pihak kepolisian. Dan kabarnya pihak LPK menemui eksekutif dan legislatif untuk berupaya memulangkan jenazah korban tersebut,” tambah Hasan.
Sementara itu berdasarkan keterangan Iswadi pengurus LPK Semanggih Kabupaten Rejang Lebong kepada pihak kepolisian, korban berangkat ke Jepang bersama empat orang rekannya pada 5 Oktober 2026 sekitar pukul 08.00 WIB.
Setibanya di Negeri Sakura, Rizki sempat menghubungi keluarganya di Indonesia untuk mengabarkan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya telah tiba di apartemen yang disediakan oleh perusahaan.
Keesokan harinya, korban mulai mengurus sejumlah dokumen administrasi yang diperlukan untuk bekerja, termasuk pembuatan kartu identitas Jepang dan dokumen pendukung lainnya.
Pada Jumat 9 Oktober 2026, Rizki mulai mengikuti kegiatan pelatihan atau training di bidang bed making, yakni pekerjaan perhotelan yang berkaitan dengan penataan dan persiapan kamar.
Namun, belum genap sepekan berada di Jepang, kabar duka justru diterima pihak keluarga.
Selain itu menurut informasi yang dihimpun, keluarga di Indonesia dihubungi oleh teman korban pada Minggu 11 Oktober 2026 sekitar pukul 08.00 waktu Jepang. Rekan korban tersebut bekerja di tempat yang sama dan tinggal di apartemen yang sama, meskipun menempati kamar berbeda.
Berdasarkan keterangan yang diterima dari rekan korban, serta informasi yang disebut bersumber dari kepolisian Jepang dan pihak perusahaan atau pembimbing setempat, Rizki diduga meninggal dunia setelah jatuh dari balkon kamar apartemen lantai sembilan.
Iksan Sumarlin, salah seorang rekan korban yang tinggal di apartemen yang sama, menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, pihak kepolisian Jepang menduga korban meninggal dunia akibat bunuh diri dengan cara melompat dari balkon apartemen.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian korban. Kepastian mengenai kronologi dan penyebab peristiwa tersebut masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang di Jepang.
Disisi lain, pihak keluarga bersama pengurus LPK Semanggih Kabupaten Rejang Lebong telah melakukan koordinasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dinas terkait, serta pihak berwenang di Provinsi Bengkulu untuk membahas penanganan peristiwa tersebut.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama keluarga adalah proses pemulangan jenazah Rizki dari Jepang ke Indonesia agar dapat dimakamkan di kampung halaman.
Hingga berita ini dilansir, komunikasi dengan pihak terkait di Jepang, pembahasan mengenai biaya, serta pengurusan prosedur pemulangan jenazah masih terus diupayakan dan dikoordinasikan lebih lanjut.
Bahkan selain proses pemulangan jenazah, keluarga juga berharap adanya kejelasan mengenai kronologi dan penyebab pasti peristiwa tersebut. Informasi lanjutan mengenai hasil pemeriksaan serta perkembangan penanganan kasus masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang di Jepang dan instansi terkait di Indonesia. (NAC)























