REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Pada momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah ini, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup untuk membuka layanan kunjungan khusus lebaran bagi para keluarga untuk menemui warga binaan pemasyarakatan (WBP) secara langsung.
Kepala Lapas Curup, David Rosehan menyampaikan, kebijakan kunjungan khusus ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan upaya menjaga sisi kemanusiaan di tengah sistem pembinaan yang serba terbatas.
“Lebaran adalah momen penting. Kami ingin WBP tetap bisa merasakan kebersamaan dengan keluarga, meskipun dalam keterbatasan,” ujarnya.
David menjelaskan, layanan kunjungan dibuka selama empat hari sejak hari pertama Idul Fitri. Namun, lonjakan pengunjung yang kerap terjadi saat Lebaran diantisipasi dengan pembagian waktu kunjungan yang ketat. Setiap harinya, kunjungan dibagi dalam dua sesi: pagi pukul 09.00–12.00 WIB dan siang pukul 13.30–16.00 WIB.
Di sisi lain, kebijakan ini juga membawa konsekuensi peningkatan potensi kerawanan. Karena itu, pihak lapas tidak memberi ruang kompromi terhadap aspek keamanan. Setiap pengunjung wajib melalui pemeriksaan berlapis, mulai dari identitas hingga barang bawaan.
“Tidak ada toleransi untuk pelanggaran. Semua tetap harus mengikuti SOP yang berlaku,” tegas David.
Langkah ini menjadi penting mengingat kunjungan Lebaran kerap dimanfaatkan untuk berbagai modus penyelundupan barang terlarang ke dalam lapas. Karena itu dia menegaskan, pemeriksaan ketat menjadi filter utama untuk mencegah hal tersebut.
“Untuk menunjang kenyamanan, pihak lapas menyediakan ruang terbuka sebagai lokasi pertemuan. Meski demikian, suasana tetap dalam pengawasan petugas,” tambahnya.
Tak hanya mengandalkan internal, Lapas Curup juga menggandeng aparat eksternal dari kepolisian dan TNI guna memperkuat pengamanan selama periode kunjungan berlangsung. Sinergi ini dinilai krusial untuk mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung dalam waktu singkat.
“Kebijakan kunjungan khusus ini, pada satu sisi, menjadi jembatan emosional antara WBP dan keluarga. Namun di sisi lain, menjadi ujian bagi aparat dalam menjaga keseimbangan antara pendekatan humanis dan ketegasan sistem keamanan,” pungkasnya.
Perlu diketahui, lebaran di dalam lapas bukan hanya soal temu rindu, tetapi juga soal bagaimana negara tetap hadir mengawasi, tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan. (JP)
























