REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, harga daging ayam di Pasar Atas Curup mengalami kenaikan signifikan hingga menembus Rp45 ribu perkilo. Lonjakan harga ini terjadi karena meningkatnya permintaan atau kebutuhan masyarakat, sedangkan stok yang tersedia relatif terbatas.
Dari pantauan Aspirasi Terkini di lapangan, sebelumnya harga ayam di Pasar Atas Curup masih berkisar diantara Rp 35-38 ribu perkilo. Namun dalam dua hari ini, harga daging ayam terus merangkak naik hingga Rp45 ribu perkilo.
Tini (52), salah seorang pedagang ayam di Pasar Atas Curup mengungkapkan, bahwa kenaikan harga sudah terjadi sejak awal Ramadan. Namun dua hari belakangan ini harga daging ayam terus naik secara perlahan.
“Sekarang harga ayam sudah diangka Rp45 ribu perkilo, sebelumnya masih Rp35 ribu. Biasanya makin dekat lebaran akan naik lagi,” ujar Tini.
Menurutnya, kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga dan persiapan hidangan khas lebaran yang menggunakan bahan dasar ayam. Namun di sisi lain, pasokan dari peternak tidak selalu mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
“Permintaan tinggi, tapi barang kadang terbatas. Dari agen juga sudah naik, jadi kami ikut menyesuaikan,” tambahnya.
Sementara itu pedagang lainnya menyampaikan, kenaikan harga daging ayam jelang Lebaran sejatinya bukan fenomena baru. Hampir setiap tahun, komoditas pangan strategis ini mengalami fluktuasi harga akibat siklus permintaan musiman yang meningkat tajam.
Namun meski begitu, kondisi tahun ini dinilai lebih memberatkan masyarakat. Sejumlah pembeli pun mulai mengurangi jumlah pembelian akibat harga yang terus naik.
“Kalau dulu konsumen bisa beli dua kilo, sekarang paling satu kilo. Harga makin mahal, jadi konsumen beralasan harus dihemat,” singkatnya.
Untuk diketahui, harga daging ayam diperkirakan masih berpotensi mengalami kenaikan. Jika pasokan tidak segera ditambah atau distribusi tidak diperbaiki, bukan tidak mungkin harga akan menembus di atas Rp50 ribu perkilo.
Kondisi ini pun menjadi alarm bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk segera mengambil langkah cepat dan terukur. Sebab, jika dibiarkan, lonjakan harga pangan tidak hanya membebani masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu inflasi musiman yang lebih tinggi. (JP)
























