Temuan tersebut menjadi perhatian Disdikbud karena laporan yang disampaikan siswa semestinya ditangani secara serius agar persoalan tidak berulang dan berkembang menjadi kejadian yang lebih serius.
Zakaria menjelaskan, berdasarkan keterangan sejumlah siswa yang dihimpun saat proses klarifikasi di sekolah, kejadian terakhir bermula dari perselisihan antara Y dan A. Keduanya disebut terlibat perkelahian di dalam kelas, sementara sejumlah siswa lain berada di lokasi dan berusaha melerai.
“Berdasarkan laporan anak-anak, ada perselisihan antara Y dan A. Dari keterangan yang kami ambil, mereka berkelahi berdua, sedangkan siswa lainnya berusaha memisahkan,” jelasnya.
Namun, keterangan tersebut berbeda dengan versi keluarga korban. Y disebut tidak terlibat dalam perkelahian, melainkan berada dalam posisi bertahan ketika menerima pukulan. Keluarga juga menyampaikan bahwa luka yang dialami korban telah diperiksa melalui visum.
Zakaria mengatakan, pihaknya mencatat adanya perbedaan keterangan tersebut dan menyayangkan terjadinya insiden yang menyebabkan siswa mengalami luka.























