“Kematian harimau ini tidak berdiri sendiri. Ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan lingkungan yang selama ini terus terjadi. Kita tidak bisa lagi melihatnya sebagai insiden biasa,” ujar Rahmat, Senin 4 Mei 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap habitat alami Harimau Sumatera di Bentang Alam Seblat semakin tinggi akibat perambahan hutan dan pembukaan lahan yang terus meluas. Kondisi itu menyebabkan ruang jelajah satwa semakin sempit dan memicu meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Bentang Alam Seblat saat ini berada dalam tekanan luar biasa. Hutan yang seharusnya menjadi rumah aman bagi satwa liar justru terus mengalami kerusakan. Ketika habitat menyusut, harimau kehilangan ruang hidup, kehilangan sumber mangsa, dan akhirnya kehilangan peluang untuk bertahan hidup,” katanya.
Rahmat juga menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap berbagai aktivitas ilegal di kawasan hutan. Ia menilai, pembiaran yang terjadi selama ini menjadi salah satu faktor utama rusaknya ekosistem di wilayah tersebut.
“Kita masih melihat aktivitas perambahan dan pembukaan lahan ilegal terus berlangsung tanpa penindakan yang tegas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ancaman terhadap keberlangsungan Harimau Sumatera akan semakin besar,” ungkapnya.























