Di Bedono, jejaknya terlihat nyata, mulai ratusan rumah dan bangunan lenyap ditelan laut, menyisakan tiang listrik terendam, jalan yang berubah jadi kanal, dan bangunan sekolah yang tinggal puing-puingnya saja.
Sejumlah kajian lokal juga menyoroti peran konversi hutan mangrove menjadi tambak pada dekade 1990-an, ditambah aktivitas reklamasi di pesisir Semarang sejak pertengahan 1980-an, sebagai pemicu kerentanan kawasan.
Menolak Pergi, Memilih Menanam
Ketika banyak warga terpaksa relokasi, Ihwanudin mengambil jalan berbeda. Sejak 2017, ia berkeliling perairan dangkal di Bedono: mengumpulkan plastik, menyiapkan ajir (patok), dan menanam bibit pada jam-jam surut.
Tujuannya bukan sekadar “menghijaukan” pesisir, melainkan memulihkan fungsi ekologis mangrove, termasuk menahan gelombang, memerangkap sedimen, menyerap karbon, dan menyediakan habitat asuhan (nursery) bagi ikan, kepiting, hingga udang yang menopang penghidupan warga.























