“Kalau melihat dari jumlah kasus yang ada, kebanyakan laki-laki yang terpapar ini gonta ganti pasangan tanpa menggunakan pengaman saat berhubungan badan. Jadi mereka rentan tertular dan mengidap penyakit HIV/AIDS yang mengerikan ini,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengingatkan kepada masyarakat, agar tidak melakukan diskriminasi terhadap mereka yang terpapar penyakit HIV/AIDS ini. Karena meskipun tidak bisa disembuhkan, penyakit mematikan ini tidak mudah untuk menular. Bahkan bisa dibilang, proses penularannya jauh lebih kecil dibanding dengan penyakit Hepatitis yang memiliki resiko hidup lebih pendek.
“Penyakit HIV/AIDS memang tak bisa disembuhkan, tapi mereka masih bisa bertahan apabila memakan obat yang diberikan secara rutin. Selain itu penyakit HIV/AIDS ini juga tidak gampang menular meskipun dengan berhubungan badan. Apalagi untuk mereka yang sudah meninggal, bakteri HIV/AIDS di badan mereka juga ikut mati sehingga tak perlu khawatir saat memandikan mayatnya,” tutup Titin.
Sekedar informasi, HIV menular melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani (sperma), cairan pra-mani, cairan rektal, cairan vagina, dan ASI. Penularan paling umum terjadi melalui hubungan seksual (vaginal, anal, oral) tanpa kondom, penggunaan jarum suntik atau alat suntik yang tidak steril bersama-sama, serta penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Ciri-ciri HIV pada pria antara lain demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, sariawan, ruam kulit, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala lain yang lebih spesifik pada pria meliputi luka pada penis, nyeri saat buang air kecil atau ejakulasi, pembengkakan testis, dan disfungsi ereksi. Gejala-gejala ini bisa bervariasi dan seringkali mirip dengan penyakit virus lain. (JP)























