“Melalui kegiatan seperti pembuatan keripik singkong, kami ingin memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, mengembangkan potensi, dan menghasilkan sesuatu yang bernilai. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal positif bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Keterampilan mengolah singkong menjadi makanan ringan juga berpotensi membuka peluang usaha mandiri karena produk tersebut dapat dikembangkan dengan berbagai pilihan rasa, kemasan, dan strategi pemasaran. Dengan pengembangan keterampilan yang tepat, warga binaan diharapkan dapat melihat peluang ekonomi dari bahan baku yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat.
“Keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan suatu produk, tetapi juga dari perubahan sikap, tumbuhnya rasa percaya diri, serta kesiapan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan sosial secara positif,” tamahnya.
Untung juga menegaskan, Lapas Kelas IIA Curup berkomitmen untuk terus mengembangkan program pembinaan yang produktif dan berorientasi pada peningkatan kemampuan warga binaan. Melalui kegiatan keterampilan seperti produksi keripik singkong, pembinaan diharapkan dapat menjadi jembatan bagi warga binaan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki peluang ekonomi setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan bukan semata-mata menjalani masa pidana, melainkan juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya. (NAC)























