Melalui sinergi dengan PT. GIM sebagai mitra swasta yang sudah bergerak dalam bisnis kopi, serta menjalin komunikasi erat dengan Sultan Najamudin selaku tokoh nasional dan putra daerah Bengkulu, HIPMI berharap kolaborasi ini akan membuka akses lebih luas ke pendanaan, pasar, dan dukungan regulasi.
“Ini bukan proyek jangka pendek. Kita ingin membangun ekosistem yang benar-benar konkret dari hulu ke hilir. Dari petani, pelatihan, pengolahan, branding, sampai distribusi. Dan HIPMI siap jadi jembatan antara pelaku usaha lokal dengan stakeholder di level nasional,” ujar Singgih.
Menurutnya, keterlibatan Sultan Najamudin sebagai Wakil Ketua DPD RI juga menjadi momentum penting untuk menyuarakan isu petani kopi Rejang Lebong ke ranah kebijakan nasional.
“Beliau adalah tokoh muda di Indonesia, paham potensi daerah, dan punya jejaring luas. Dengan peran beliau, kami berharap pembangunan ekosistem kopi bisa mendapatkan dukungan yang lebih konkret dari pemerintah pusat dan para investor,” tambahnya.
Singgih juga menekankan, bahwa kopi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga menyangkut identitas budaya dan keberlanjutan kehidupan petani.























