REJANGLEBONG, ASPIRASITERKINI.COM – Dugaan kasus perundungan atau bullying kembali terjadi di lingkungan pendidikan. Kali ini, seorang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, berinisial Y (13), diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan sejumlah teman sekolahnya pada Selasa 27 Oktober 2026. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka dan pembengkakan pada bagian mata hingga mengeluarkan darah.
Orang tua korban, Heny, mengaku terkejut setelah menerima kabar bahwa anaknya mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Tanpa menunggu lama, dia bersama keluarga mendatangi sekolah untuk menjemput korban dan membawanya ke RSUD Rejang Lebong guna mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis.
“Saat mendapat kabar bahwa anak kami dikeroyok, tentu saya kaget. Kami langsung datang ke sekolah tadi dan menjemput anak untuk dibawa ke RSUD Rejang Lebong,” ujar Heny.
Berdasarkan penuturan korban kepada orang tuanya, dugaan aksi kekerasan tersebut melibatkan lebih dari empat siswa. Masing-masing siswa disebut memiliki peran berbeda, mulai dari menghadang korban, menutup pintu, memegangi tubuh korban, hingga melakukan pemukulan.
Akibat kejadian itu, bagian mata Y mengalami luka hingga mengeluarkan darah dan membengkak. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir terhadap kesehatan korban, terutama kemungkinan adanya gangguan pada penglihatannya.
Heny mengatakan, pihak keluarga telah membawa Y ke RSUD Rejang Lebong untuk menjalani pemeriksaan medis sekaligus keperluan visum. Keluarga juga berkonsultasi dengan dokter spesialis mata guna memastikan kondisi mata korban setelah dugaan pemukulan tersebut.
“Atas kejadian itu, kami langsung membawa anak kami ke RSUD untuk keperluan visum. Selain itu, kami juga akan berkoordinasi dengan dokter spesialis mata untuk memeriksa kondisi matanya,” ungkapnya.
Menurut Heny, siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut juga duduk di kelas VIII, tetapi berbeda kelas dengan anaknya. Dia mengaku memperoleh informasi bahwa salah seorang siswa yang mengeroyok anaknya diketahui sering terlibat perkelahian.
Namun, dugaan keterlibatan masing-masing siswa dalam peristiwa tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan kronologi dan pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Heny juga mengungkapkan, dugaan perundungan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan cerita Y, kejadian serupa disebut telah beberapa kali dialami sebelumnya, meskipun tingkat keparahannya tidak seperti peristiwa yang terjadi saat ini.
Bahkan, korban disebut pernah mengadukan persoalan yang dialaminya kepada guru bimbingan konseling (BK) di SMPN 1 Rejang Lebong. Akan tetapi, menurut Heny, pihak keluarga belum mengetahui adanya langkah penyelesaian yang dinilai jelas untuk menghentikan dugaan perundungan tersebut.
Keluarga menilai kejadian yang berulang perlu menjadi perhatian serius pihak sekolah. Terlebih, insiden terbaru menyebabkan korban mengalami luka pada bagian mata hingga harus mendapatkan pemeriksaan medis.
Karena itu atas kejadian tersebut, Heny menegaskan pihak keluarga berencana membawa persoalan ini ke jalur hukum dengan melaporkannya ke Polres Rejang Lebong. Langkah tersebut diambil agar dugaan kekerasan terhadap anaknya dapat ditindaklanjuti dan tidak kembali terjadi, baik terhadap Y maupun siswa lainnya.
“Kami akan melaporkan kejadian ini ke Polisi. Kami tidak mau persoalan ini selesai hanya dengan maaf,” tegasnya.
Heny juga menilai, dugaan kekerasan yang menyebabkan anaknya hingga mengalami luka dan mengeluarkan darah ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele. Menurutnl dia, keselamatan siswa harus menjadi prioritas di lingkungan pendidikan sehingga setiap dugaan perundungan perlu ditangani secara serius.
“Kami berharap pihak berwenang dapat menelusuri kejadian tersebut secara menyeluruh, termasuk dugaan keterlibatan sejumlah siswa serta informasi mengenai peristiwa serupa yang disebut pernah dialami korban sebelumnya,” harapnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Rejang Lebong, Rachmawati, saat dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan mengenai dugaan perundungan yang dialami Y. Saat ini dia tengah berada di luar kota untuk menemani anaknya yang tengah menjalani operasi usus buntu.
“Saya belum mendapat laporan terkait hal itu. Namun, saya akan meminta guru BK agar dapat bertemu langsung dengan orang tua siswa yang diduga menjadi korban perundungan untuk mengetahui seperti apa kejadiannya,” ujarnya singkat melalui via WhatsApp.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak sekolah berencana menindaklanjuti informasi yang disampaikan keluarga korban melalui koordinasi dengan guru BK dan orang tua siswa. (NAC)























