
“Waktu perang di Timor Leste, saya terpisah dengan sahabat saya. Sehingga waktu itu, saya bersama rombongan mencari sahabat kami itu. akan tetapi selama pencarian, kami tak pernah menemukannya. Akan tetapi ketika ditemukan, nasib malang menimpa sahabat kami ini, karena saat ditemukan, beliau sudah dalam keadaan tinggal kepala saja. Jadi menurut saya, perjuangan pahlawan itu tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena jika tidak ada mereka, belum tentu kita hidup di era seperti ini,” terangnya.
Disamping itu Ibnu juga menjelaskan, ada tiga jenis veteran di Indonesia, yakni veteran pejuang dari tahun 1945-1949, kemudian veteran pembela yang dibagi menjadi 3 kategori. Yakni peristiwa di Irian Barat atau Operasi Trikora tahun 1961, peristiwa di Kalimantan tahun 1964 dan juga peristiwa di Timor Timur tahun 1975. Lalu ada yang terakhir namanya veteran perdamaian, TNI-Polri dan Sipil-Swasta yang dikirim ke luar negeri atas nama Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Banyak kategori para pejuang, namun perlu diketahui, semuanya itu adalah pahlawan yang memperjuangkan bangsa,” singkatnya.
Untuk diketahui, Ibnu Hajar pensiun dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Dan sekarang diketahui menghabiskan waktunya di Desa Taba Mulan, Kecamatan Merigi. Selama dirinya menjadi Veteran, dirinya mendapatkan Tunjangan veteran (Tuvet) sebesar Rp 1,8 juta setiap bulan. (PB)























