BENGKULU, ASPIRASITERKINI.COM – Tragedi ekologis kembali terjadi di wilayah konservasi Provinsi Bengkulu. Seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di aliran anak sungai wilayah Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, pada 30 April 2026 lalu.
Satwa langka yang merupakan salah satu predator puncak di Pulau Sumatera itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kawasan Bentang Alam Seblat, tepatnya di area Hutan Produksi (HP) Air Teramang. Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu habitat penting tersisa bagi Harimau Sumatera di Bengkulu.
Kematian harimau ini kembali menjadi alarm keras bagi kondisi konservasi satwa liar di Indonesia, khususnya di Bentang Alam Seblat yang terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia.
Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung periode 2020 hingga 2025, populasi Harimau Sumatera di tiga bentang alam utama Provinsi Bengkulu diperkirakan kini hanya tersisa sekitar 42 individu.
Koordinator Tiger Heart Bengkulu, Rahmat Novan Ismadi menilai, peristiwa tersebut bukan sekadar kematian satu individu harimau, melainkan dampak nyata dari kerusakan ekosistem yang terus berlangsung.























