Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih adanya masyarakat yang menolak didata atau tidak memberikan informasi secara lengkap dan jujur. Padahal, kualitas data yang dikumpulkan akan menjadi dasar penyusunan berbagai kebijakan pembangunan nasional maupun daerah dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami sangat menyayangkan apabila masih ada responden yang memberikan jawaban tidak sesuai kondisi sebenarnya. Data yang tidak akurat akan memengaruhi kualitas hasil sensus. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat menerima kedatangan petugas dan memberikan informasi yang benar,” tegasnya.
Selain persoalan partisipasi masyarakat, tantangan lain datang dari tingginya beban kerja petugas di sejumlah kecamatan padat usaha dan penduduk. Kondisi ini menyebabkan kecepatan pendataan di beberapa wilayah tidak dapat disamakan dengan kecamatan lain.
Kecamatan Sindang Beliti Ulu menjadi wilayah dengan capaian tertinggi, yakni 70,50 persen, menunjukkan efektivitas pelaksanaan pendataan di wilayah tersebut.
Sebaliknya, Kecamatan Curup Tengah menjadi wilayah dengan progres paling rendah, yakni 53,01 persen. Namun rendahnya persentase tersebut bukan disebabkan lemahnya kinerja petugas, melainkan besarnya target pendataan yang harus diselesaikan.























